Sobat, kamu aktif di media sosial? Pastinya pernah dong
membanding-bandingkan hidupmu dengan teman-temanmu. Kayaknya temanku kok lebih
sukses ya, lebih pintar, lebih kaya, lebih bahagia dan lebih segalanya.
Kesimpulan itu kita dapat setelah mengintip profil, membaca
status atau komentar-komentar mereka di media sosial. Ya, ketika kita terhubung
dengan teman-teman kita yang sekian lama tidak berjumpa, kini kita jadi tahu
seperti apa mereka.
Saya akui, saya pun pernah merasa “iri” dengan teman-teman
saya. Saat awal-awal aktif di media sosial, saya pun terkagum-kagum dengan
perubahan beberapa teman. Ada yang dulu tidak berkerudung, kini sudah menutup
auratnya. Ada yang dulu begajulan/pecicilan/pencilakan (hehe...Bahasa Jawa ini,
artinya semacam usil, nakal atau tengil gitu deh), sekarang telah menjelma
menjadi orangtua yang bijak.
Ada juga teman-teman saya yang sudah mencapai gelar
profesor, doktor, haji/hajah, dll. Ada yang sudah keliling ke berbagai negara.
Ada yang anaknya sangat berprestasi, cakep, cantik, dll. Wow, hidup mereka
begitu sempurna.
Apalagi kalau kita membandingkan dengan profil publik figur.
Makin mengkeret deh. Mereka memiliki segala-galanya. Kerjanya jalan-jalan
melulu, shopping, wisata kuliner, banyak prestasi, punya keluarga bahagia,
hidupnya pun sempurna.
Kayaknya kok kita jadi merasa orang yang paling kurang
beruntung sedunia. Jangankan traveling atau shopping, duit juga punya
pas-pasan. Jangankan wisata kuliner, makan sehari-hari juga gitu-gitu aja. Nah,
itulah yang memunculkan penyakit hati, yakni iri, sedih, minder, nggak pede,
putus asa dan bahkan tidak bersyukur.
Padahal, kita tidak pernah tahu profil teman kita yang
sebenarnya di dunia nyata itu seperti apa. Media sosial itu kan dunia maya,
segalanya melalui setingan. Tidak semuanya sama dengan kehidupan mereka di
dunia nyata. Jadi, jangan buru-buru kita menilai mereka lebih bahagia dari
kita.
Bukankah ketika mereka melihat profil kita, merekapun
mungkin berpikir sama, iri dengan kehidupan kita yang di mata mereka sempurna?
Mungkin, justru mereka “iri” dengan kita. Padahal kita yang merasakan sendiri,
bahwa hidup kita tak seindah di media sosial.
Kembali soal setingan, begini penjelasannya. Umumnya, media
sosial itu adalah alat untuk menampilkan citra diri kepada publik yang tidak
mampu dijangkau di kehidupan nyata. Melalui media itulah, kita ingin
mengabarkan kepada dunia tentang eksistensi diri kita. Tentu saja, citra yang
ditampilkan yang baik-baik saja. Yang buruk-buruk biarlah kita sembunyikan
rapat-rapat. Kita nggak mungkin mengabarkan kejelekan kita sendiri kan?
Yah, kecuali beberapa gelintir orang yang memanfaatkan media
sosial hanya untuk curhat, mencurahkan kegalauan, keputus-asaan, bahkan
misuh-misuh (Bahasa Jawa lagi nih, mengumpat). Menurut saya, orang seperti itu
sungguh merugi. Itu orang yang nggak ngerti fungsi utama media sosial.
Kalau menurut saya, media sosial itu adalah media untuk
mem-branding diri. Yang sadar betul kegunaan ini, misalnya artis-artis ya.
Mereka sadar betul diri mereka sebagai sebuah brand. Makanya biar eksis terus,
wajib hukumnya bagi mereka untuk upload kegiatan sehari-hari mereka melalui
media sosial, apakah dalam bentuk foto-foto atau status.
Nah, pastinya, status atau foto yang ditampilkan adalah yang
baik-baik saja. Ini yang saya bilang setingan tadi. Contohnya kalau kita punya
akun instagram, pengin upload foto, pasti akan memilih pose terbaik. Nggak
mungkin foto yang jelek yang kita share. Iya, kan?
Demikian pula ketika membagikan pengalaman sehari-hari. Coba
pas kita makan di kaki lima yang menunya biasa aja, misal mi ayam di dekat
rumah, nggak akan sibuk selfie. Tapi sekalinya kita makan di restoran atau
hotel bintang lima, pasti nggak ketinggalan upload foto-fotonya. Itulah mengapa
yang tampak di media sosial itu adalah yang indah-indah saja. Yang happy-happy
saja. Yang mewah-mewah saja. Yang enjoy-enjoy saja. Dan memang itulah karakter
dasar manusia, ada gharizah baqo, ada ego yang ingin diakui eksistensinya, yang
selalu ingin terlihat sempurna. Dan itu sah-sah saja.
Maka dengan begitu, berhentilah membanding-bandingkan hidup
kita dengan orang lain. Sebab, apa yang sudah diraih orang lain dan belum kita
miliki, belum tentu itu memang sesuatu yang kita butuhkan. Belum tentu apa yang
dimiliki atau dicapai orang lain itu, adalah hal yang baik dan berguna bagi
kita. Karena kita berbeda dengan mereka.
Kuncinya adalah selalu bersyukur. Allah SWT pasti sudah
memilihkan jalan hidup kita yang terbaik. Syukuri. Kalaupun masih serba
kekurangan, itu sebagai bahan introspeksi barangkali kita memang masih kurang
ikhtiarnya. Dari sana kita justru berfikir, bagaimana supaya bisa menghadapi
ujian berupa kekurangan-kekurangan tadi.
Jangan pula kekurangan ini kita ekspos di media sosial,
seolah-olah tidak ada rasa syukurnya. Justru kekurangan ini kita jadikan pemicu
untuk berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Sementara bagi yang sudah
berkecukupan, alhamdulillah dan jangan sombong. Tetap tawadhu.
Juga, harus tetap bersyukur. Yakinlah, setiap orang itu
punya jalan hidup masing-masing yang sudah dirancang Allah SWT. Tinggal manusia
berikhtiar sekuat tenaga untuk meniti jalan terbaik yang dia inginkan, yang dia
cita-citakan. Tentunya, dengan jalan yang halal dan diridhoi Allah SWT.
Hidup kita adalah kita, bukan mereka. Kita tidak bisa meniru
atau meniti jalan hidup orang lain. Yang ada hanya menjadikan mereka sebagai
inspirasi. Kita sendirilah yang harus mewujudkan mimpi-mimpi kita.
Ingatlah Allah SWT berfirman (Ar-ra'du:11)
.إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ....
artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu
kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka. ”(*)
Oleh: Asri Supatmiati
Sumber: gudang-tulisan.blogspot.com