
Oleh: Rohmawati
Ngomongin tentang cinta memang tidak akan pernah ada habisnya dalam kehidupan ini. Terlahir karena cinta, bersatu karena cinta dan berpisahpun karena cinta. Begitu juga pertama kali Allah ciptakan manusia atas dasar rasa cinta. Makanya manusia tidak akan pernah bisa lari dari sebuah rasa yang bernama cinta. Baik cinta terhadap Allah, cinta terhadap rosul maupun cinta terhadap sesamanya. Sebab memang pada dasarnya Allah telah berikan rasa cinta itu kepada setiap mahluk ciptaannya. Terutama kepada manusia.
Munculnya rasa cinta dalam diri manusia ketika ia mulai merasakan sesuatu yang lebih kuat, lebih indah daripada dirinya. Keindahan alam semesta ini membuat siapapun yang melihatnya pasti akan memunculkan rasa cinta terhadap pembuatnya. Makanya Allah karuniakan akal pada manusia tidak lain hanyalah bertujuan untuk memunculkan rasa cinta terhadap sang pencipta melalui ciptaan-ciptaannya. Seperti alam semesta, kehidupan dan manusia.
Bagi seorang muslim mencintai Allah adalah suatu kewajiban yang harus ada dalam setiap diri manusia. Sebab Allah adalah sang maha pencipta dan pengatur segala urusan kehidupan manusia. Karena sejatinya manusia itu lemah dan terbatas dari segala sisi. Maka jelas, manusia tidak akan mampu untuk hidup dalam kesendirian. Jangankan manusia, hewan melatapun tidak akan pernah bisa hidup dengan kesendirian pastilah butuh mahluk lain dalam kehidupannya. Dan itulah fitrahnya kehidupan.
Maka sejatinya manusia yang terlahir dari rasa cinta, dan hidup dengan rasa cinta seharusnya taat dan tunduk pada aturan sang pencipta dengan melakukan hal-hal yang di perintahkannya dalam kehidupan dan menjauhi segala larangan. Agar cinta sang pencipta terhadap mahluknya selalu bertumbuh setiap harinya. Karena sejatinya Allah ciptakan manusia dalam kehidupan hanyalah untuk meraih cintanya melalui amalan-amalan yang dilakukannya. Dan orang-orang yang beriman adalah orang yang lebih kuat cintanya kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa: 59)
Islam sendiri adalah merupakan agama yang dimana didalamnya penuh dengan rasa cinta. Mulai dari cara mencintai, dan siapa yang harus kita cintai. Sebagaimana yang di jelaskan dalam ayat di atas. Bahwa sesungguhnya cinta kita terhadap Allah harus juga cinta terhadap rasulnya dengan menaati segala perintahnya. Karena sejatinya keimanan yang hakiki adalah keimanan yang didalamnya tanpa rasa ragu dalam menjalani setiap aturannya. Percayalah segala aturan dalam kehidupan ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap semua mahluknya terutama untuk manusia.
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”