
Oleh: Siti Aminah
Teman sejati bukanlah teman yang selalu mendukung dalam kemaksiatan, teman sejati adalah teman yang selalu memberi nasihat yang baik buat sahabatnya.
عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ»
“Agama itu nasihat.”
Kata an-nashihah berasal dari kata an nush-hu yang secara etimologi mengandung dua makna:
- Bersih dari kotoran-kotoran dan bebas dari para sekutu.
- Merapatnya dua sesuatu sehingga tidak saling berjauhan.
Adapun definisi an-nashihah secara terminologi dalam hadits ini adalah: Mengharapkan kebaikan orang yang dinasihati, definisi ini berkaitan dengan nasihat yang ditujukan kepada pemimpin umat Islam dan rakyatnya. Adapun jika nasihat itu diarahkan kepada Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya, maka yang dimaksud adalah merapatnya hubungan seorang hamba dengan tiga hal tersebut di atas, di mana dia menunaikan hak-hak mereka dengan baik.
Jika kita dinasihati orang, terima lah. Mungkin dengan cara ini Allah hendak menegur kita. Mungkin Allah hantarkan dia untuk mengubah kita menjadi lebih baik.
Jika ada sahabat yang sering menasihati kita, itu semua karena dia menyayangi kita. Jangan lepaskan mereka. Jangan jauhi dari mereka.
Seperti yang disebutkan oleh Imam Syafi'i rahimullah; “Jika kau mempunyai teman yang selalu membantu kau untuk taat kepada Allah ﷻ, maka peganglah dia erat-erat dan jangan kau lepaskan dia.”
Imam Syafi'i berkata lagi, “Karena mencari teman yang baik itu sulit. Tetapi melepaskannya mudah sekali.” Sahabat itu saling menasihati.
والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ
“dan Allah lebih tahu yang sebenar-benarnya”